Relawan Budaya Situbondo Meminta Agar Cepat Selamatkan Yang Diduga Candi

SITUBONDO, Limadetik.com – Relawan Budaya Situbondo meminta agar cepat selamatkan yang diduga candi. Karena keberadaan struktur bata temuan yang berada dalam situs di Pedukuhan Bhanyakan, Kampung Pasar Nangka, Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur yang diduga jelas sebuah reruntuhan berupa candi.

Baca juga (http://limadetik.com/penemuan-pecahan-bata-merah-di-jangkar-situbondo-diduga-kuat-situs-pra-sejarah-hindu-budha/).

Hal itu dikatakan Humas LSM Wirabhumi Irwan Rakhday, pada Kamis (3/5/2018) di lokasi penemuan bata merah yang kuat diduga situs Hindu-Budha.

“Ada indikasi ini candi dengan ciri pertama, ditemukannya potongan relief bermotif sulur. Kedua, struktur bata yang sebagian sisinya tertata menonjol. Ini adalah ciri yang terdapat pada candi. Tapi ini baru observasi awal. Untuk kepastiannya tentu arkeolog yang menyimpulkan nanti, ” ucap Irwan.

Ditambahkan, pihaknya hanya akan mengawal upaya penyelamatan lokasi diduga situs cagar budaya itu.

“Yang utama adalah pihak pemerintah, yang lebih berwenang. Dan ini harus segera dilakukan. Polisi bisa segera memberi police line demi mencegah potensi kerusakan lebih lanjut”, imbuhnya.

Menurut Irwan, Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga harus segera merespon cepat dengan mendatangkan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jatim.

Sementara itu, Iwenk Lametan dari Relawan Budaya Balumbung meminta penyelamatan taktis atas situs tersebut.

“Informasi keberadaan struktur bata ini sudah sejak saya masih kecil, saya ketahui. Cuma saat itu kita tahunya ini disebut sebhata. Berupa gundukan memanjang di pematang sawah dan dikeramatkan, itu aja. Karena itulah pemerintah harus segera selamatkan ini,” jelasnya.

Pembina Dewantara (Dewan Wali Adat Budaya Nusantara) H.Mohammad Nasir yang juga ikut mengawal, mengaku prihatin bila temuan semacam ini tak segera tertangani.

“Dari media publik sudah mengetahui. Polsek, pihak desa, sudah mengobservasi, tinggal ahlinya yang harus mengurusi situs diduga cagar budaya ini beserta analisa sejarahnya. Kami pasti bantu mengedukasi di lapangan,” ujarnya.

Terpisah, Angga warga setempat yang menemukan kembali struktur itu mengisahkan jika pertengahan April 2018, berinisiatif menanam palawija di pematang sawah yang dikelola bapak mertuanya.

“Banyak bata yang tersusun saat menggali. Lalu kami lanjutkan hingga 3 kali. Namun, setelah bersih dari semak belukar , ternyata ada dampak ghaib yang mengganggu. Kok ya kemudian kebetulan ada teman-teman dari pegiat sejarah menelusuri lokasi,”  kata Angga.

Kemudian, ia menyepakati upaya penyelamatan situs itu bersama para pegiat  sejarah. Kongkritnya, ia  merelakan lahan tersebut untuk tidak ditanami.

Situs yang di dalamnya masih menyimpan struktur bata itu memiliki panjang sedikitnya 20 meter. Lebar bervariasi antara 1 hingga 5 meter pada posisi tertentu. Sedangkan dimensi batanya yaitu panjang 28 cm, lebar 15 cm dan tebal 6 cm. (Ozi/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here