Indonesia Sedang di Jajah Dari Jalur Pendidikan

Ditulis oleh: Sokran, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura Bangkalan Jawa Timur

Sabtu, 29 Oktober 2016

Artikel,Limadetik.com – Indonesia merdeka sudah 72 tahun lamanya, terhitung sejak proklamasi dikumandangkan oleh Bung Karno pada tahun 1945. Namun bukan berarti kita benar-benar lepas dari cengkeraman para bangsa penjajah. Konsep penjajahan selalu berubah seiring berjalannya waktu.

Jika di era kenabiaan, suatu
bangsa dikatakan dijajah saat akhlak di tindas. Di era kerajaan suatu bangsa dikatakan di jajah saat
teriotorial kekuasaannya di rampas.Di era pasca kerajaan suatu bangsa dikatakan di jajah saat
kekayaan alam atau rempah-rempat dikupas habis secara paksa oleh bangsa penjajah.

Di era pra proklamasi, suatu bangsa dikatakan di jajah, saat warga pribumi tidak memiliki kekuasaan di kursi parlemen,dan syukurlah saat ini kursi parlemen hanya bisa diduduki oleh warga pribumi.

Ketika kursi parlemen telah di duduki oleh warga pribumi sendiri,bukan berarti kita lepas dari penajajahan.Perlu khayalak sadari bahwa bangsa kita saat ini benar-benar kebingungan,Warga yang tak sekolah bingung, karena takut tidak dapat pekerjaan,dan warga yang sekolahpun bingung, kelak jika sudah lulus sekolah mau ngapain. Begitu gencar peran pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga warga yang tidak sekolah akan merasa malu.

Guru adalah pahlawan tanpa jasa, masih ingatkah dengan kasus keluarga murid yang mempenjarakan gurunya. Peristiwa itu cukup membingungkan, sehingga untuk mencapai kebenarannya sangat sulit.
jika murid tidak belajar kepada seorang guru, lantas belajar kepada siapa lagi? dan jika guru dalam menanamkan moral takut nantinya dipenjara, lantas siapa yang akan menanamkan moral kepada aset
bangsa tersebut?. Lah wong realitanya para orang tua di jaman sekarang begitu sibuk dengan karirnya, sehingga anaknya diletakkan di sekolahan, yang penting sekolah, gak gelem repot.

Orang tua sibuk bekerja (katanya) demi menyekolahkan anaknya dan agar anaknya kelak bisa berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan (karir) yang tinggi pula. Hakekat bersekolah adalah mencari ilmu, dan hakekat ilmu hanya semata-mata sebagai pembuka suatu wawasan, bukan sebagai jembatan karir.

Menurut Suryamin, di Indonesia telah terjadi penurunan angka pengangguran pada
masyarakat lulusan SD, SMP dan SMA/K, namun yang menjadi ganjal justru terjadi peningkatan pengangguran pada lulusan pendidikan tinggi dari 5,34 persen menjadi 6,22 persen (Sumber:https://m.tempo.co/read/news/2016/05/04/173768481/bps-pengangguran-terbuka-di-Indonesia-capai-7-02-juta orang).

Dari penjelasan Suryamin tersebut masih belum jelas apakah sarjana yang sudah
bekerja itu sudah linier dengan disiplin ilmunya.Setiap tanggal 10 November adalah perayaan Hari Pahlawan Nasional, jika guru adalah pahlawan tanpa jasa, maka pahlawan adalah guru. Mari kita ikhtisarkan bersama bahwa guru adalah pahlawan dan pahlawan adalah guru.

HOS Tjokroaminoto adalah guru yang sekaligus pahlawan bagi bung karno,
maka dari itu bukan hal yang salah, jika di pidatonya bung karno menyebutkan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan”. Dan bung karno adalah gurunya masyarakat Indonesia, karena jasa dan gagasannya masih kita gunakan dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Di jaman sekarang Indonesia benar-benar kebingungan arah. Kasus kopi sianida disidangkan berulang-ulang kali, lantaran perdebadan ilmu pengetahuan,Sekian banyak tokoh dari disiplin ilmu pengetahuan
menyampaikan argumennya, namun tetap saja di tepis oleh kuasa hukum pihak tersangka.

Kemudian bangsa kita nyaris terguncang oleh isu kenaikan harga rokok, lantaran salah satu displin ilmu menyebutkan, bahwa rokok tidak menyehatkan Jadi rakyatnya bingung dan pejabatnya-pun bingung.Bangsa kita sudah terlalut dalam sekularisme-nya sendiri, bangsa yang sudah mulai lupa dengan nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Bangsa yang lupa akan nilai-nilai agama dan budaya.

Khalayak perlu sadar, bahwa kita sudah terlalu lama larut dalam ketuhanan ilmu pengetahuan. Jadi, seakan-akan apa
yang sudah disampaikan berdasarkan teori dan penelitian, maka itu terjamin kebenaran.Dan notabene teori yang dipelajari di bangku pendidikan adalah teori teori dari bangsa barat.

Jika memang itu realitanya, maka bisa diikhtisarkan bersama bahwa Ideologi bangsa kita tidak lagi Pancasila,melainkan Sekularis. Dan jika kebenaran yang hakiki adalah teori dan penelitian,apakah terciptanya kitab-kitab di suatu agama berangkat dari suatu penelitian?? Bukankah kebenaran yang hakiki adalah agama.

Diatas sudah diulas, bahwa lulusan pendidikan tinggi mengalami peningkatan pengangguran,berpendidikan tinggi memang perlu, namun jika berpendidikan tinggi disertakan embel-embel karir,kekuasan dan kekayaan, lebih baik tidak perlu berpendidikan tinggi.

Jika khalayak berkeyakinan
bahwa karir, kekuasaan dan kekayaan itu membuat hidup terasa nikmat, maka itu salah! Karena ada karir, kekuasaan dan kekayaan yang lebih nikmat di luar dunia.
Sudah sekian banyak fenomena orang-orang yang berpendidikan tinggi seperti Sarjana, Megister,Doktor bahkan Profesor terjerat kasus tindak pidana korupsi, sehingga tidak selaras antara pendidikannya yang tinggi dengan perilakunya yang rendah.

Jika fenomena seperti itu tetap
bermunculan di Indonesia, maka bisa di curigai akan lahir suatu masa di mana rakyat tidak percaya kepada pendidikan,Karena pendidikan yang tinggi tidak menjamin terciptanya budi pekerti yang luhur. Ilmu pengetahuan yang ilmiah cukup banyak merusak tatanan masyarakat, mulai dari menghilangkan gotong royong, menghilangkan adat dan tradisi dari masing-masing tempat. Contohnya, minum berdiri
tidak benar secara ilmu kesehatan, merokok juga tidak benar secara kesehatan, dll.

Dan seiring berjalannya waktu semua kekayaan yang di miliki oleh bangsa ini mulai terkikis, entah itu kekayaan
alam maupun budayanya.
Disiplin ilmu yang berbicara perilaku manusia (Psikologi) turut berpotensi merusak tatanan masyarakat. Disiplin ilmu Psikologi sudah mulai banyak diminati di Indonesia, dan teori-teori yang
dipelajari mayoritas adalah teori-teori barat, khususnya Amerika. Di Amerika, profesi Psikolog memang di butuhkan oleh sebagian besar masyarakat Amerika untuk teman curhat, memohon alternatif solusi,dll.

Akan tetapi konstruk sosial di Indonesia berbeda dengan Amerika, di Indonesia
profesi Psikolog tidak begitu dibutuhkan lantaran kebiasaan masyarakat Indonesia jika curhat cenderung kepada tukang warung kopi, sahabat, keluarga, guru atau tokoh masyarakan maupun tokoh
agama dan semacamnya. Jika Psikolog di Indonesia mampu menggantikan peran tukang warkop,sahabat, keluarga, guru dll, maka dapat diikhtisarkan bersama bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa
yang individualisme selain di dukung oleh faktor gadget dll.

Mengutip pesan bung karno “bahwa
musuh terbesar kita adalah Indivualisme”.
Ilmu pengetahuan yang kita kenyam di bangku pendidikan rendah sampai tinggi merupakan penyadar bagi kita sendiri, agar kita mampu mempertahankan Pancasila dan tetap melawan sekularisme dan
individualisme.

Pemaparan di atas merupakan gambaran sederhana terkait peran ilmu pengetahuan
yang mulai menjajah bangsa Indonesia. Dan jika memang benar terjadi demikian,maka kita perlu sadar dan segera kembali menemukan suatu kebenaran yang hakiki agar dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara benar-benar jelas, mana yang benar dan mana yang salah.(yd)

Leave a Reply