Subliyanto

Selasa, 24 September 2019.

Artikel, Oleh : Subliyanto, limadetik.com Mendapatkan sesuatu yang sempurna tidaklah mudah, apalagi hanya pada produk manusia, karena sempurna hanyalah sifat milik Tuhan yang Maha Sempurna, Allah yang Maha Esa. Demikian pula dengan fenomena sosial yang terjadi pada akhir-akhir ini, mulai dari polemik produk perundang-undangan yang menjadi pedoman hukum negara, hingga polemik dunia hiburan yang membawa label identitas diri manusia.

Semuanya menjadi sorotan tajam dari beberapa kalangan. Dan sudah menjadi maklum bahwa segala produk manusia melahirkan pro dan kontra, karena hal tersebut menjadi barometer terhadap kualitas sebuah produk itu sendiri. Namun demikian, mengingat kesempurnaan merupakan hal yang mustahil untuk kita dapatkan, maka kearifan dalam memberikan value juga sangatlah penting untuk diperhatikan.

Adalah sebuah warisan tradisi yang telah dibangun oleh para ulama’ terdahulu dalam menyikapi setiap persoalan sosial yang bersifat pro dan kontra, yaitu tradisi ilmu yang membedah pokok-pokok persoalan dengan berbagai sudut pandang dan rujukan ilmiah yang disertai pandangan-pandangan solustif sebagai jalan tengahnya, dengan mendudukkan setiap persoalan sosial dengan arif dan bijaksana.

Sehingga solusi-solusi yang ditawarkan, ataupun perbaikan-perbaikan konseptual terbukukan dan menjadi rujukan, yang kemudian dengan demikian tidak ada argumentasi-argumentasi liar, karena argumentasi yang dibangun lepas dari kepentingan pribadi ataupun kelompok tertentu, akan tetapi lebih mengedepankan visi bersama dan kebaikan bersama.

Ironisnya, saat ini tradisi tersebut dapat dinilai minim yang melestarikannya. Tapi lebih mengutamakan gerakan lahiriyah dari pada gerakan fikriyah ilmiah. Efeknya adalah minimnya dokumentasi konseptual solusi yang bisa dipelajari dan dikaji ulang oleh generasi berikutnya.

Dan sudah pasti juga bernilai pada minimnya tradisi keilmuan suatu bangsa. Padahal, dalam perspektif peradaban suatu bangsa, kemajuan suatu bangsa bermula dari tradisi ilmu, yang dengan ilmu tersebut dapat mengantarkan suatu bangsa menjadi lebih baik. Apalagi pada fase kehidupan sesudah merdeka.

Tentu hal ini sangatlah penting untuk menjadi perhatian bagi semua para generasi penerus bangsa untuk menuangkan ide-ide cemerlangnya dalam sebuah konsep nyata yang bersifat ilmiah, dalam hal ini tanpa menafikan gerakan lahiriyah, sebagai tawaran solusi dalam mengatasi setiap persoalan kehidupan bangsa.

Sehingga dengan demikian keberadaan semua pihak saling melengkapi, dengan menghidupkan budaya dalam mengkritisi yang diimbangi dengan tawaran konseptual solusi yang bisa dikaji bersama dan menjadi pertimbangan dalam bingkai visi kebaikan bersama sebagaimana telah dilakukan oleh para ulama’ pendahulu kita.

Kejayaan suatu bangsa, tidak lepas dari kiprah para filosof handal yang mengerahkan pikirannya dalam merumuskan sebuah konsep dengan menganalisa permasalahan secara mendalam, hingga ketemu akar utama permasalahannya, yang kemudian dimasukkanlah solusi yang tepat untuk mengatasinya.

Dalam sejarah, Muhammad SAW, adalah satu-satunya konseptor yang tidak tertandingi dengan konsep piagam madinah yang beliau rumuskan, dimana konsep tersebut mengcover semua solusi permasalahan semua aspek kehidupan manusia dengan arif dan bijaksana. Sehingga sistem hidup dan kehidupan manusia berjalan dengan penuh keindahan.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dari konsep yang beliau rumuskan, sehingga dapat kita amalkan dalam kehidupan kita. Amin, Wallahu a’lam [*]

Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here