umroh 12 hari

Senyum Orang Tua, Obat Kesuksesanku

Ayah dan ibuku merupakan petani handal dalam menanam berbagai biji-bijian seperti cabai, jagung, kacang ijo dan buah-buahan seperti pepaya, mangga dan pisang.

Senyum Orang Tua, Obat Kesuksesanku
FOTO: Ilustrasi

Oleh : Hafirotul Qomariyah
_____________________

CERPEN – Pagi yang cerah, semua akivitas dimulai. Dari menyapu halaman rumah, ada yang pergi ke sawah untuk mencocok tanam kembali karena pergantian musim,, ada yang berkumpul sambil tertawa bersama dan ada pula sebagian warga desa melakukan aktivitasnya di dalam rumahnya.

umroh 9 hari

Aku adalah gadis desa yang hidup di pedesaan bersama ayah dan ibu yang berprofesi sebagai petani.

Ayah dan ibuku merupakan petani handal dalam menanam berbagai biji-bijian seperti cabai, jagung, kacang ijo dan buah-buahan seperti pepaya, mangga dan pisang.

Di desa aku terkenal sebagai anak gadis yang cerewet dan suka membantu orang tua. Aku mempunyai mimpi yang tinggi yaitu ada gelar sarjana dibelakang namaku.

Di desaku semangat anak untuk melanjutkan perguruan tinggi sangatlah rendah karena terdapat berbagai faktor-faktor, faktor pertama : faktor keuangan dan faktor kedua : faktor pernikahan dini.

Kini hari berganti hari telah berlalu, tibalah kabar kelulusanku di sekolah menengah atas tinggal menunggu kabar dari kelulusan ku di perguruan tinggi yang hanya menghitung hari. 1 minggu sudah berlalu, kabar yang di tunggu-tunggu terjawab sudah.

“Emaak…. bapak…. akhirnya aku kuliaaaahh” kabarku kepada kedua orang tuaku dengan senang sambil berjungkrak ria. Dengan kegaduhan yang ku buat membuat semua tetanggaku heran.

“Kemana orang tuaku?” tanyaku pada diri sendiri terheran-heran sambil mencarinya, karena tidak ada sambutan dari dalam rumah.

“Apa ada di sawah yaa?” tanyaku pada diri sendiri yang tidak menadapatkan jawaban pasti. Sambil lalu aku mencarinya ke halaman samping rumah.

“Ternyata ada di sini” kataku sambil tersenyum. Lalu aku menghampirinya untuk memberitahu kabar kelulusanku kepadanya.

“Mak,bapak, akhirnya aku lulus” kataku.
“Alhamdulillah” kata mak dan bapakku mengucap rasa syukur sambil berkaca-kaca.

Lalu emmak bertanya “kamu ambil jurusan apa?”

“Bahasa Indonesia” kataku.
“Kok gak ambil jurusan matematika saja, kan bidangmu disana” kata bapakku.

Baca Juga :  CERPEN: Persahabatan di Sudut Kelas

“Tidak pak, bidang ku terletak pada bahasa Indonesia, kalo di matematika, akan bertemu angka setiap saat” kataku sambil tertawa.

“Tapi benar kok pak, aku paham dalam berbahasa” lanjutku. Karna kelelahan sudah melanda tubuhku, aku pun pamit pulang lebih dulu kepada orang tuaku.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Kini aku sudah 4 tahun kuliah di salah satu perguruan tinggi yang terletak di sumenep.

Kuliahku berjalan sebagaimana mestinya ada suka dan duka. Penuh cerita di dalamnya yang kini menjadi kenang-kenangan bersama teman-teman dan para dosen.

Kini aku sudah dinyatakan lulus dengan nilai yang tinggi. “Alhamdulillah yaa mak, pak. Akhirnya aku lulus kuliah dengan hasil yang memuaskan dengan nilai yang paling tinggi dari semua mahasiswa dan terima kasih dengan jasa kalian, semangat kalian, aku ini bisa menggapai cita-citaku dan mimpi kalian dengan hasil yang sangat memuaskan” kataku sambil menangis bahagia.

“Iya sama-sama nak, dengan tekad yang kamu miliki. Akhirnya kamu dapat mengangkat derajat orang tuamu ini, semoga kesuksesan selalu mendampingimu” kata ibuku sambil memelukku.

“Kamu hebat” kata bapakku dengan tersenyum yang terpancar bahagia di wajah kerutnya.

Akhirnya keluargaku mempunyai hari bahagia dan penuh warna dari hari-hari sebelumnya.

Pesanku, teruslah gapai cita-citamu dengan semangat dan dorongan doa dari orang tuamu yang selalu terselip di akhir sujudnya dan jagalah mereka selagi ada jangan pernah menyakitinya. Dan yakinlah bahwa kesuksesan akan menyertaimu.

Tinggalkan Balasan